TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Kemarau panjang mulai berdampak terhadap produksi dan layanan air bersih di Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur.
Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PTMB) menyebut dari sembilan instalasi pengolahan air (IPA) yang dimiliki, terdapat dua IPA yang mengalami gangguan cukup signifikan.
Direktur Teknik PTMB M Kohiruddin mengatakan, dua IPA tersebut yakni IPA Teritip di Balikpapan Timur dan IPA Waduk Manggar Km 12, Karang Joang, Balikpapan Utara.
Kondisi sumber air yang terdampak musim kemarau membuat kapasitas produksi di kedua instalasi tersebut mengalami penurunan.
“Dari 9 pengolahan yang kami miliki, ada dua layanan IPA pengolahan yang agak sedikit terganggu,” kata Kohiruddin pada rilis bersama media di Kantor Pemkot Balikpapan, Jalan Jenderal Sudirman, Kelurahan Klandasan Ulu, Senin (7/9/2026).
Ia menjelaskan, IPA Teritip yang dalam kondisi normal mampu memproduksi sekitar 200 hingga 220 liter per detik, saat ini produksinya turun menjadi sekitar 100 hingga 110 liter per detik.
Sementara itu, kondisi lebih berat terjadi di IPA Km 12. IPA yang biasanya mampu menghasilkan sekitar 80 hingga 100 liter per detik tersebut saat ini belum dapat beroperasi secara normal.
“Km 12 yang biasanya sampai 80 atau 100, sekarang mati total dan hanya bisa mungkin beroperasi di sore atau malam hari saja,” ujar Kohiruddin yang menjabat sebagai Direktur Teknik PTMB ini sejak Desember 2025 ini.
Gangguan yang terjadi, jika ada, hanya bersifat kecil seperti kebocoran jaringan dan akan segera dilakukan perbaikan.
Kemarau Diprediksi Berlanjut hingga Oktober
Kondisi tersebut menjadi perhatian PTMB karena berdasarkan hasil rapat terakhir bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Jumat lalu, musim kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga Oktober 2026.
“Berdasarkan rapat terakhir di hari Jumat dengan BMKG, di bulan Oktober kemarau itu masih ada,” ungkap Kohiruddin.
Karena itu, PTMB masih melakukan langkah mitigasi, khususnya untuk memastikan kebutuhan air pelanggan tetap terpenuhi selama masa kemarau.
Salah satu langkah jangka pendek yang dilakukan adalah memperkuat distribusi air melalui truk tangki.
PTMB saat ini menyiapkan sebanyak 17 unit truk tangki yang disebar ke tiga titik pelayanan.
Setiap truk memiliki kapasitas sekitar 5.000 liter atau 5 meter kubik.
Dalam sehari, satu unit truk dapat melakukan hingga lima kali perjalanan pengantaran, tergantung jarak dan kondisi akses menuju lokasi pelanggan.
“Kalau sehari satu unit itu bisa sampai lima rit. Karena memang titik antarannya bervariasi. Ada yang sangat jauh sehingga cukup memakan waktu. Ada yang daerahnya dekat, tapi kadang akses masuknya agak susah,” jelasnya.
Tingginya permintaan air tangki membuat tidak seluruh keluhan masyarakat dapat langsung dilayani.
Kohiruddin menyebut hampir dua bulan terakhir Balikpapan tidak mendapatkan hujan yang cukup, sehingga ketergantungan masyarakat terhadap air tangki semakin tinggi.
“Permintaannya cukup tinggi. Mengingat hampir dua bulan ini tidak ada hujan, jadi memang masyarakat sangat bergantung sekali dengan air tangki seperti itu,” katanya.
Untuk pelanggan PTMB, distribusi air menggunakan truk tangki juga mendapatkan subsidi dari perusahaan.
Berdasarkan Peraturan Walikota Balikpapan tahun 2014, tarif yang dibayarkan pelanggan untuk satu tangki air sebesar Rp50.000.
Namun, biaya transportasi yang dikeluarkan PTMB mencapai sekitar Rp250.000 per tangki.
Dengan demikian, terdapat subsidi sekitar Rp200.000 yang ditanggung perusahaan untuk setiap pengiriman kepada pelanggan.
“Satu tangki ada 5.000 liter atau 5 kubik. Kalau biaya berdasarkan Perwali tahun 2014, satu tangki itu Rp50.000 untuk pelanggan. Sebenarnya kami membayar ongkos transportasinya Rp250.000. Jadi ada Rp200.000 yang kami subsidi untuk pelanggan,” bebernya.
Kohiruddin menegaskan, langkah tersebut merupakan bentuk tanggung jawab PTMB dalam memastikan pelanggan tetap mendapatkan akses air bersih di tengah kondisi kemarau.
“Ini sebagai tanggung jawab Perumda bisa memberikan air kepada masyarakat Kota Balikpapan yang statusnya sebagai pelanggan,” ujarnya.
Sementara tarif bagi masyarakat yang bukan pelanggan PTMB berbeda dengan tarif khusus pelanggan.
Kohiruddin menambahkan, pihaknya tidak dapat memastikan secara detail kondisi cuaca dan curah hujan di seluruh wilayah Balikpapan karena informasi tersebut merupakan kewenangan BMKG.
PTMB hanya memantau ketersediaan air di sumber baku yang menjadi bagian dari sistem pelayanan perusahaan.
“Kami hanya tahunya ada air di waduk. Kita juga tidak tahu apakah di utara, di Waduk Manggar, atau di Teritip ada hujan. Kami juga belum ter-update informasi seperti itu,” katanya.
Namun, berdasarkan informasi yang diterima dalam rapat bersama BMKG, kondisi kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga September dan Oktober.
“Rapat hari Jumat terakhir disampaikan September sampai dengan Oktober masih kemarau,” pungkas Kohiruddin. (*)
Penulis: Siti Zubaidah | Editor: Miftah Aulia Anggraini